Kamis, 10 Januari 2013

Prospek Perunggasan 2013 : Cemerlang di Tengah Berbagai Tantangan

poultryindonesia.com, Mari kita perhatikan tren isu di dunia dan nasional, antara lain (1). Growth with Equity atau pertumbuhan yang adil; (2). Climate change atau perubahan iklim ekstrim; (3). Food security atau ketersediaan pangan; (4). Animal welfare atau kesejahteraan hewan; (5). Financial yaitu pendapatan.
Agribisnis perunggasan memiliki peranan penting dalam menggerakkan perekonomian nasional. Dirjen Peternakan dan Keswan Syukur Iwantoro mengungkapkan bahwa sektor perunggasan menyerap investasi Rp.1,68 triliun (60%) dari investasi di bidang peternakan sebesar Rp.2,8 triliun.
Agribisnis ayam pedaging dan petelur mampu menyerap 2,5 juta tenaga kerja langsung dengan perputaran uang lebih dari 50 triliun per tahun (Dawami, 2011). Menurut Wamen Perdagangan Bayu Krisnamurthi, setiap tahun Indonesia berhasil memproduksi 2 miliar ekor ayam dengan nilai transaksi Rp.30 triliun dan produksi telur mencapai 24 miliar butir dengan nilai transaksi Rp.24-25 triliun. Pada sisi produksi, industri ayam pedaging memberikan kontribusi sebesar 1,27 juta ton (63,3%) dari total produksi daging nasional 2,47 juta ton, sementara kontribusi telur ayam ras mencapai 0,97 juta ton (69,2%) dari total produksi telur nasional 1,43 juta ton. Dengan memperhatikan tren produksi beberapa tahun terakhir, agribisnis perunggasan diperkirakan dapat tumbuh sebesar 5-7 persen pada tahun 2013. Fakta-fakta tersebut membuktikan bahwa agribisnis ayam ras telah berperan nyata dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kesejahteraan, menciptakan lapangan pekerjaan, dan memperkuat ketahanan pangan.

Prospek cemerlang
Agribisnis ayam ras memiliki prospek pasar yang tetap cemerlang pada tahun-tahun mendatang. Daging dan telur ayam ras merupakan sumber utama konsumsi protein hewani nasional. Daging ayam ras menyumbang 3,51 kg (50,50%) dari konsumsi daging sebesar 6,95 kg/kapita/tahun pada tahun 2010, sedangkan telur ayam ras menyumbang 6,71 kg (92,81%) dari konsumsi telur 7,23 kg (Statistik Peternakan 2011). Jumlah konsumsi daging dan telur ayam tersebut meningkat signifikan masing-masing 0,46 kg (10,95%) dan 0,88 kg (15,09%) dari konsumsi tahun 2009 sebesar 4,20 kg dan 5,83 kg. Konsumsi daging dan telur ayam Indonesia tersebut masih berada di bawah negara tetangga, seperti Malaysia 36 kg dan 19,44 kg, Singapura 28 kg dan 4 kg, Filipina 8,5 kg dan 5,81, dan Thailand 16 kg dan 9,06 kg.
Tingkat konsumsi daging dan telur ayam akan terus melonjak karena faktor karakteristik produk unggas yang harganya terjangkau oleh masyarakat luas, berkualitas gizi baik, disukai oleh konsumen  segala  umur,  tersedia  dalam  jumlah  yang  cukup,  dan  dapat  diolah  menjadi berbagai jenis makanan, serta penyebarannya menjangkau seluruh wilayah Indonesia. Selain itu, peningkatan konsumsi juga terus terjadi seiring dengan peningkatan jumlah penduduk, peningkatan pendapatan masyarakat, perbaikan tingkat pendidikan dan kesadaran gizi, pertumbuhan masyarakat kelas menengah, wisata kuliner yang memarak, serta arus globalisasi yang menyebabkan terjadinya perubahan gaya hidup dan pola konsumsi.
Fenomena kenaikan konsumsi daging ayam semakin diperkuat oleh masalah produksi dan distribusi daging sapi. Pada periode Januari-Desember 2012 kenaikan harga daging sapi mencapai 13 persen, padahal pada periode yang sama tahun 2011 persentase kenaikannya hanya menyentuh angka 5,8 persen. Bahkan, pada akhir tahun 2012 harga jual rata-rata daging sapi di beberapa kota besar di Indonesia mencapai angka kenaikan tertinggi sebesar Rp.90.000 – Rp.95.000 per kg, meningkat sekitar 30 persen dari harga jual sebelumnya Rp.70.000 – Rp.75.000 per kg. Kenaikan harga daging sapi tersebut bukan disebabkan kenaikan permintaan menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru 2013, melainkan merupakan dampak dari mahalnya harga sapi akibat pasokan sapi di daerah berkurang. Hal ini kemudian diperparah terungkapnya  kasus pencampuran daging sapi untuk bakso dengan daging babi di beberapa daerah. Kejadian tersebut berdampak positif terhadap kenaikan konsumsi dan harga daging ayam. Dr. Ir. Sutawi, M.P, Dosen Fak. Pertanian dan Peternakan Univ. Muhammadiyah Malang. (sutawi@umm.ac.id).

Simbiosis Mutualisme Alami Sawit – Sapi

Terbukti mampu memangkas biaya pupuk, dongkrak produktivitas kebun sawit, jadi solusi pendapatan petani di periode replanting. Tentang sumber pakan, tak jadi soal
Di Riau, luas lahan perkebunan sawit tercatat 2,3 juta hektar. Bentangan kebun seluas itu kepemilikannya terbagi atas perkebunan rakyat 1,2 juta hektar, dan sisanya perkebunan non rakyat yang terdiri atas PBS (Perkebunan Besar Swasta ) dan PBN (Perkebunan Besar Nasional).
Dan di lingkungan para petani kebun sawit setempat, dikenal ungkapan Siska yang merupakan kepanjangan dari sistem integrasi sapi kelapa sawit. Sistem ini mulai banyak dikembangkan, antara lain untuk mengurangi ongkos pemupukan. Adalah Sumadi, asal Desa Perak Jaya, Kabupaten Siak – Riau, salah satu petani sawit yang menerapkan integrasi sapi-sawit sejak 2009 dengan awal populasi sebanyak 10 ekor sapi. ”Kotoran sapi dapat mengurangi belanja pupuk untuk kebun sawit sebesar Rp 4 juta rupiah per hektar,” ungkap pria pemilik lahan sawit 6,5 hektar dan kini sapinya berkembang jadi 23 ekor.
 Kata Sumadi, untuk pemupukan dengan pupuk kimia (anorganik) biasanya ia harus merogoh kocek sekitar Rp 12 juta per hektar kebun sawit, sedangkan dengan pupuk kotoran sapi (organik) ia cukup mengeluarkan Rp 8 juta perhektar. Sehingga ia membenarkan, usaha integarasi sapi-sawit dapat menambah pendapatan. “Pendapatan saya jadi tidak hanya dari hasil kebun sawit. Pupuk dari kotoran sapi bisa dijual Rp 2.500 per kg sementara urin Rp 5.000 per liternya,” imbuh dia.
Pria yang juga Ketua Kelompok Tani Karya Maju ini mengatakan, sementara ini pupuknya digunakan untuk kebutuhan kelompoknya sendiri.  “Kadang-kadang aja ada permintaan dari luar anggota,” ujar ketua kelompok dengan 10 anggota dan total populasi sapi 60 ekor.
Demikian pula cerita Samiranpetani kebun sawit asal Desa Rawang Kao,Kabupaten Siak yang Ketua Kelompok Karya Tunggal. Ia mengisahkan, dipicu jatuhnya harga sawit pada 2007, ia harus memutar otak untuk melakukan penghematan biaya operasional. Salah satunya adalah cara pemupukan yang irit. “Dengan sapi, ibaratnya beli pupuk sekali bisa untuk memupuk lahan selamanya,” ia menyebut argumentasi. Karena itu kemudian ia mengajak beberapa rekan dalam kelompoknya yang punya ternak, untuk memeliharanya dalam satu kandang dan dimanfaatkan kotorannya sebagai pupuk.
Samiran menyebut nilai lebih sistem integrasi sapi-sawit, feses dan urin sapinya dapat memangkas biaya pemupukan sampai 40 %. Ia menambahkan, sapi-sapinya digembalakan di pagi hari dan sore harinya dikandangkan.
Pabrik Pupuk
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Riau, Askardiya R Patrianov, kepada TROBOS Livestock menjelaskan setiap harinya dari seekor sapi dengan berat hidup kurang lebih 350 kg dihasilkan sekitar 20 – 25 kg berat basah limbah padat, atau setara dengan 12,5 kg berat kering. Sementara produksi limbah cair adalah 10 - 11 liter per ekor per hari dengan effective collecting 5 – 7 per liter.
Terlebih bila dipadukan dengan pengolahan limbah menjadi biogas nilai lebihnya akan makin tinggi. Masih menurut pria yang akrab disapa Novi ini, tiap sapi dalam sehari mampu menghasilkan biogas 1m3 atau setara 0,6 liter minyak tanah. “Jika keuntungan limbah tersebut diatur dalam suatu bentuk sistem, otomatis subsidi pupuk akan masuk ke peternak,” ujarnya.
Ia pun punya pandangan yang bernada usul, subsidi pupuk bagus apabila diwujudkan untuk pembangunan kandang-kandang ternak atau dibelikan ternak yang selanjutnya akan menjadi “pabrik pupuk” di pedesaan. “Misalnya anggaran untuk pupuk Rp 18 triliun, sisihkan Rp 5 triliun dibelikan ternak,”usulnya.
Periode Replanting
Dalam budidaya kelapa sawit ada periode yang dinamakan dengan replanting, sebuah istilah untuk menggambarkan proses perombakan perkebunan untuk mengganti pohon yang sudah tidak produktif dengan yang baru. Populasi pohon sawit ditebang habis dan kemudian lahan ditanami bibit baru. Bisa dipastikan, petani plasma (kebun rakyat) di periode ini tidak mendapat penghasilan sampai pohon muda ini berbuah dan masuk masa produksi.
Karena itu, pilihan usaha integrasi sapi –sawit mampu jadi jalan keluar bagi petani, mengisi celah kurangnya pendapatan di masa paceklik tersebut. Suparno, petani kebun sawit asal Desa Banjar Seminai, Kabupaten Siak menuturkan, alasan inilah yang melatarbelakangi ia kini menganut sistem integrasi sapi – sawit. Pada 2016, menurut perhitungannya, kebun sawitnya akan memasuki masa replanting. Karena itu ia kini melakukan antisipasi menghadapi periode tersebut. ”Saya baru mulai memelihara sapi 6 bulan ini, dengan populasi 66 ekor,” ujar petani yang juga plasma PTPN V ini.
Senada, Rafmen, Head of CSR (Coorporate Social Responsibility) PT Asian Agri, menyebutkan alasan perusahaannya konsisten dalam mengembangkan integrasi sapi-sawit melalui CSR, adalah sebagai langkah antisipasi masa replanting.  “Itu sudah jelas,” tegasnya.
Dipaparkan Rafmen, kecambah kelapa sawit generasi terbaru yang dikembangkan perusahaan dan disebarkan kepada petani saat ini, mulai produksi di umur 30 bulan (2,5 tahun). Dijelaskannya, dalam periode menunggu 30 bulan tersebut, produksi sawit otomatis berhenti dan petani tidak ada pendapatan dari kelapa sawit sama sekali. Maka itu, kata Rafmen lagi, pengembangan program integrasi sapi - sawit dapat menjadi salah satu solusi di masa replanting.
Dongkrak Produktivitas Sawit
Tak hanya mendatangkan keuntungan dari limbah yang dimanfaatkan sebagai pupuk, integrasi sapi-sawit mampu mendongkrak produktivitas usaha budidaya kelapa sawit.  Sumadi menyebut angka sekitar 30 % kenaikan produktivitas sawit yang dia peroleh. Kalau biasa ia panen 3 ton sawit per bulan per kavling (2 hektar), sejak memanfaatkan pupuk produksi kandang  kelompok, angkanya jadi di kisaran 4 – 5 ton. “Panennya 10 hari sekali,” plasma dari PT Indosawit ini menambahkan keterangan.
 http://www.trobos.com/show_article.php?rid=4&aid=3614

Potensi Ternak di Jawa Tengah

Potensi Ternak Plasma Nutfah di Jawa Tengah antara lain :

SAPI JAWA BREBES (SAPI JABRES)
  
Sapi ini diduga merupakan hasil persilangan antara Sapi Madura atau Sapi Bali dengan Sapi Lokal atau Ongole. Sapi Jabres berkembang dengan baik di daerah dataran tinggi Kabupaten Brebes dan Kabupaten Tegal bagian selatan.
Keunggulan Sapi Jabres :
1. dapat berfungsi sebagai ternak kerja dan resisten terhadap serangga;
2. tahan terhadap kondisi lingkungan dan pakan yang terbatas ;
3. Kualitas kulit bagus dan struktur dagingnya padat ;
4. Persentase karkas berkisar antara 45 - 50 %.

KAMBING PE KALIGESING

Kambing ini berada di Pusat Pembibitan Kambing PE di Kecamatan Kaligesing Kabupaten Purworejo. Kambing PE merupakan hasil persilangan antara kambing ettawa dengan kambing kacang.
Keunggulan Kambing PE Kaligesing :
1. Merupakan type dwiguna sebagai penghasil daging dan susu
2. Kualitas kulit bagus
3. Mempunyai sifat prolifik
4. Aktifitas produksinya tidak dipengaruhi oleh musim.

KAMBING KEJOBONG (KAMBING HITAM KEJOBONG)

Kambing Kejobong diduga hasil persilangan antara kambing dari India (Ettawa/Banggala) dengan Kambing Kacang, kemudian diseleksi oleh para petani turun temurun, akhirnya terjadi keseragaman warna bulu yaitu hitam, oleh karena itu sering disebut dengan "Kambing Hitam Kejobong".
Keunggulan Kambing Kejobong :
1. Warna spesifik yang seragam yaitu hitam, sehingga sering disebut Kambing Hitam Kejobong.
2. Mempunyai potensi jarak beranak (calving interval) yang pendek.
3. Mempunyai sifat beranak kembar dalam satu kelahiran (prolifik).

DOMBA WONOSOBO TEXEL (DOMBOS TEXEL)
Diduga merupakan persilangan antara Domba Longwoll & Domba Lincoln dengan domba lokal Belanda. Domba ini masuk ke Indonesia sejak tahun 1955. Perkembangan di Jawa Tengah ada di dataran tinggi Kab. Wonosobo yaitu di Desa Kwadungan Kec. Kalijajar.
Keunggulan Domba Texel :
1.    Profilik dan mempunyai penghasil daging yang handal, karena pertumbuhan cepat.
2.    Kulit mempunyai kualitas yang sangat baik yaitu tipis, lentur, lembut, dan bulunya halus dan penghasil bulu/woll
3.    Mempunyai ciri spesifik, dapat dikembangkan sebagai aset wisata.

DOMBA BATUR

Domba Batur adalah domba berbulu tebal merupakan hasil persilangan antara domba jantan yang berasal dari peternakan Tapos, Jawa Barat (diduga hasil persilangan Texel x Suffolk dengan domba lokal Dieng)
Domba ini dikembangkan di Desa Batur, Kab. Banjarnegara, Jateng.

AYAM KEDU

Ayam Kedu merupakan salah satu ayam lokal unggul yang berasal dari Jawa Tengah, khususnya di Kabupaten Temanggung.
Pusat Pengembangan Ayam Kedu adalah Kab. Temanggung namun ayam ini sudah berkembang ke Kabupaten lain antaranya Kab./Kota Magelang, Grobogan, Surakarta, Kudus, Salatiga, Semarang bahkan sampai keluar Provinsi Jawa Tengah yaitu DIY, Jatim, Jabar, DKI, Lampung, Semut, Sumsel, Kaltim dan Privinsi Kalsel.
Keunggulan Ayam Kedu :
1.    Mempunyai produktifitas yang tinggi dibandingkan dengan ayam lokal lainnya.
2.    Khusus pada ayam kedu hitam (cemani) sering digunakan untuk keperluan adat istiadat / ritual.

ITIK TEGAL

Populasi Itik Tegal terkonsentrasi dikawasan utara pulau Jawa terutama di Kab./Kota Batang, Pemalang, Tegal, Brebes.
Itik Tegal termasuk bangsa Itik Indian Runner yang mempunyai produksi telur tinggi. Itik ini mempunyai hubungan kekerabatan dengan Khaki Campell, yaitu keturunan Itik Pedaging Rowen dan Indian Runner.
Keunngulan Itik Tegal :
1.    Produksi telur tinggi, dapat mencapai 253 butir per tahun, bahan baku telur asin yang paling populer
2.    Tahan terhadap penyakit
3.    Pengembangan daerah pantai didukung dengan ketersediaan pakan berupa ikan runcah.
4.    Itik jantan dan betina afkir dimanfaatkan sebagai sumber daging.


ITIK MAGELANG (KALUNG)

Itik Magelang merupakan unggas air unggulan Jawa Tengah selain Itik Tegal. Perbedaannya Itik Tegal habitatnya di dataran rendah, sedangkan Itik Magelang di dataran medium sampai tinggi (> 400 dpl).
Itik Magelang mempunyai tetua yang sama dengan Itik Tegal yaitu bangsa Itik Indian Runner. Ciri khas Itik Magelang adalah adanya warna putih melingkar seperti kalung pada lehernya, sehingga disebut "itik kalung"
Wilayah pengembangan selain di Kabupaten Magelang antara lain di Kabupaten Purworejo, Semarang, dan Kabupaten Temanggung.
Keunggulan Itik Magelang :
1.    Sebagai sumber produksi telur berkisar 48-70 %, dengan pemeliharaan intensif produksinya dapat mencapai 80%.
2.    Itik jantan dan betina afkirnya dimanfaatkan sebagai sumber daging, dikembangkan sebagai itik potong.

ITIK PENGGING

Selain Itik Tegal dan Itik Magelang, Itik Pengging juga merupakan Itik unggulan Jawa Tengah, penyebarannya Itik Pengging adalah Kab. Boyolali, Kab. Sukoharjo, Kab. Klaten dan Kab. Sragen.
Itik Pengging diduga merupakan hasil persilangan antara Itik Magelang dengan Itik Mojosari, serta warna bulu pada umumnya didominasi warna bulu Itik Mojosari.
Keunggulan Itik Pengging :
1.    Produksinya tinggi diantara Itik Tegal dan Itik Magelang
2.    Resisten terhadap lingkungan cukup tinggi.

Sabtu, 29 Desember 2012

Penyebab Babi Haram (jika ditanya oleh bule)


Berikut ini tulisan mengenai pengharaman darah dan babi dalam Islam, diulas dari sudut pandang logika dan ilmu kesehatan. Semoga bermanfaat.
Bob: Tolong beritahu saya, mengapa seorang Muslim sangat mementingkan mengenai kata-kata “Halal” dan “Haram”; apa arti dari kata-kata tersebut?
Yunus: Apa-apa yang diperbolehkan diistilahkan sebagai Halal, dan apa-apa yang tak diperbolehkan diistilahkan sebagai Haram, dan Al-Qur’an lah yang menggambarkan perbedaan antara keduanya.
Bob: Dapatkah anda memberikan contoh?
Yunus: Ya, Islam telah melarang segala macam darah. Anda akan sependapat bahwa analisis kimia dari darah menunjukkan adanya kandungan yang tinggi dari uric acid (asam urat?), suatu senyawa kimia yang bisa berbahaya bagi kesehatan manusia.
Bob: Anda benar mengenai sifat beracun dari uric acid, dalam tubuh manusia, senyawa ini dikeluarkan sebagai kotoran, dan dalam kenyataannya kita diberi tahu bahwa 98% dari uric acid dalam tubuh, dikeluarkan dari dalam darah oleh Ginjal, dan dibuang keluar tubuh melalui air seni.
Yunus: Sekarang saya rasa anda akan menghargai metode prosedur khusus dalam penyembelihan hewan dalam Islam.
Bob: Apa maksud anda?
Yunus: Begini… seorang penyembelih, selagi menyebut nama dari Yang Maha Kuasa, membuat irisan memotong urat nadi leher hewan, sembari membiarkan urat-urat dan organ-organ lainnya utuh.
Bob: Oh begitu… Dan hal ini menyebabkan kematian hewan karena kehabisan darah dari tubuh, bukannya karena cedera pada organ vitalnya.
Yunus: Ya, sebab jika organ-organ, misalnya jantung, hati, atau otak dirusak, hewan tersebut dapat meninggal seketika dan darahnya akan menggumpal dalam urat-uratnya dan akhirnya mencemari daging. Hal tersebut mengakibatkan daging hewan akan tercemar oleh uric acid,sehingga menjadikannya beracun; hanya pada masa kinilah, para ahli makanan baru menyadari akan hal ini.
Bob: Selanjutnya, selagi masih dalam topik makanan; Mengapa para Muslim melarang pengkonsumsian daging babi, atau ham, atau makanan lainnya yang terkait dengan babi?
Yunus: Sebenarnya, diluar dari larangan Al-Qur’an dalam pengkonsumsian babi, bacon; pada kenyataannya dalam Bible juga,pada Leviticus bab 11, ayat 8, mengenai babi, dikatakan, “Dari daging mereka (dari “swine”, nama lain buat “babi”) janganlah kalian makan, dan dari bangkai mereka,janganlah kalian sentuh; mereka itu kotor buatmu.” Lebih lanjut lagi, apakah anda tahu kalau babi tidak dapat disembelih dileher karena mereka tidak memiliki leher; sesuai dengan anatomi alamiahnya? Muslim beranggapan kalau babi memang harus disembelih dan layak bagi konsumsi manusia, tentu Sang Pencipta akan merancang hewan ini dengan memiliki leher. Namun diluar itu semua, saya yakin anda tahu betul mengenai efek-efek berbahaya dari komsumsi babi, dalam bentuk apapun,baik itu pork chops, ham, atau bacon.
Bob: Ilmu kedokteran mengetahui bahwa ada resiko besar atas banyak macam penyakit. Babi diketahui sebagai inang dari banyak macam parasit dan penyakit berbahaya.
Yunus: Ya, dan diluar itu semua, sebagaimana kita membicarakan mengenai kandungan uric acid dalam darah, sangat penting untuk diperhatikan bahwa sistem biochemistry babi mengeluarkan hanya 2% dari seluruh kandungan uric acidnya, sedangkan 98% sisanya tersimpan dalam tubuhnya.
Sumber: Ibrahim Ali Ahmad

BETERNAK KELINCI


Ternak ini semula hewan liar yang sulit dijinakkan. Kelinci dijinakkan sejak 2000 tahun silam dengan tujuan keindahan, bahan pangan dan sebagai hewanpercobaan. Hampir setiap negara di dunia memiliki ternak kelinci karena kelinci mempunyai daya adaptasi tubuh yang relatif tinggi sehingga mampu hidup di
hampir seluruh dunia. Kelinci dikembangkan di daerah dengan populasi penduduk relatif tinggi, Adanya penyebaran kelinci juga menimbulkan sebutan yang berbeda, di Eropa disebut rabbit, Indonesia disebut kelinci, Jawa disebut trewelu dan sebagainya.

Di Indonesia masih terbatas daerah tertentu dan belum menjadi sentra produksi/dengan kata lain pemeliharaan masih tradisional.

JENIS
Menurut sistem Binomial, bangsa kelinci diklasifikasikan sebagai berikut :
Ordo : Lagomorpha
Famili : Leporidae
Sub famili : Leporine
Genus : Lepus, Orictolagus
Spesies : Lepus spp., Orictolagus spp.
Jenis yang umum diternakkan adalah American Chinchilla, Angora, Belgian,
Californian, Dutch, English Spot, Flemish Giant, Havana, Himalayan, New
Zealand Red, White dan Black, Rex Amerika. Kelinci lokal yang ada
sebenarnya berasal dari dari Eropa yang telah bercampur dengan jenis lain
hingga sulit dikenali lagi. Jenis New Zealand White dan Californian sangat baik
untuk produksi daging, sedangkan Angora baik untuk bulu.

MANFAAT

Manfaat yang diambil dari kelinci adalah bulu dan daging yang sampai saat inimulai laku keras di asaran. Selain itu hasil ikutan masih dapat dimanfaatkan untuk pupuk, kerajinan dan pakan ternak.

PERSYARATAN LOKASI
Dekat sumber air, jauh dari tempat kediaman, bebas gangguan asap,baubauan,suara bising dan terlindung dari predator.

PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA

Yang perlu diperhatikan dalam usaha ternak kelinci adalah persiapan lokasi yang sesuai, pembuatan kandang, penyediaan bibit dan penyediaan pakan.

Penyiapan Sarana dan Perlengkapan

Fungsi kandang sebagai tempat berkembangbiak dengan suhu ideal 21 derajat C,sirkulasi udara lancar, lama pencahayaan ideal 12 jam dan melindungi ternak dari predator. Menurut kegunaan, kandang kelinci dibedakan menjadi kandang induk.Untuk induk/kelinci dewasa atau induk dan anak-anaknya,kandang jantan, khusus untuk pejantan dengan ukuran lebih besar dan Kandang anak lepas sapih. Untuk menghindari perkawinan awal kelompok dilakukan pemisahan antara jantan dan betina. Kandang berukuran 200x70x70 cm tinggi alas 50 cm cukup
untuk 12 ekor betina/10 ekor jantan. Kandang anak (kotak beranak) ukuran 50x30x45 cm.

Menurut bentuknya kandang kelinci dibagi menjadi:
1) Kandang sistem postal, tanpa halaman pengumbaran, ditempatkan dalam ruangan dan cocok untuk kelinci muda.
2) Kandang sistem ranch ; dilengkapi dengan halaman pengumbaran.
3) Kandang battery; mirip sangkar berderet dimana satu sangkar untuk satu ekor dengankonstruksi Flatdech Battery (berjajar), Tier Battery (bertingkat), PyramidalBattery (susun piramid). Perlengkapan kandang yang diperlukan adalah tempat pakan dan minum yang tahan pecah dan mudah dibersihkan.

Pembibitan
Untuk syarat ternak tergantung dari tujuan utama pemeliharaan kelinci tersebut.Untuk tujuan jenis bulu maka jenis Angora, American Chinchilla dan Rexmerupakan ternak yang cocok. Sedang untuk tujuan daging maka jenis Belgian,Californian, Flemish Giant, Havana, Himalayan dan New Zealand merupakan
ternak yang cocok dipelihara.
1) Pemilihan bibit dan calon induk Bila peternakan bertujuan untuk daging,dipilih jenis kelinci yang berbobot badan dan tinggi dengan perdagingan yang baik, sedangkan untuk tujuan bulu jelas memilih bibit-bibit yang punya potensi genetik pertumbuhan bulu yang baik. Secara spesifik untuk keduanya harus punya sifat fertilitas tinggi, tidak mudah nervous, tidak cacat, mata bersih dan terawat, bulu tidak kusam, lincah/aktif bergerak.
2) Perawatan Bibit dan calon induk
Perawatan bibit menentukan kualitas induk yang baik pula, oleh karena itu perawatan utama yang perlu perhatian adalah pemberian pakan yang cukup,pengaturan dan sanitasi kandang yang baik serta mencegah kandang dari gangguan luar.
3) Sistem Pemuliabiakan
Untuk mendapat keturunan yang lebih baik dan mempertahankan sifat yang spesifik maka pembiakan dibedakan dalam 3 kategori yaitu:
a. In Breeding (silang dalam), untuk mempertahankan dan menonjolkan sifat spesifik misalnya bulu, proporsi daging.
b. Cross Breeding (silang luar), untuk mendapatkan keturunan lebih baik/menambah sifat-sifat unggul.
c. Pure Line Breeding (silang antara bibit murai), untuk mendapat bangsa/jenis baru yang diharapkan memiliki penampilan yang merupakan perpaduan 2 keunggulan bibit.
4) Reproduksi dan Perkawinan
Kelinci betina segera dikawinkan ketika mencapai dewasa pada umur 5 bulan(betina dan jantan). Bila terlalu muda kesehatan terganggu dan dan mortalitas anak tinggi. Bila pejantan pertama kali mengawini, sebaiknya kawinkan dengan betina yang sudah pernah beranak. Waktu kawin pagi/sore
hari di kandang pejantan dan biarkan hingga terjadi 2 kali perkawinan, setelah itu pejantan dipisahkan.
5) Proses Kelahiran
Setelah perkawinan kelinci akan mengalami kebuntingan selama 30-32 hari. Kebuntingan pada kelinci dapat dideteksi dengan meraba perut kelinci betina 12-14 hari setelah perkawinan, bila terasa ada bola-bola kecil berarti terjadi kebuntingan. Lima hari menjelang kelahiran induk dipindah ke kandang
beranak untuk memberi kesempatan menyiapkan penghangat dengan cara merontokkan bulunya. Kelahiran kelinci yang sering terjadi malam hari dengan kondisi anak lemah, mata tertutup dan tidak berbulu. Jumlah anak yang dilahirkan bervariasi sekitar 6-10 ekor.

Pemeliharaan
1) Sanitasi dan Tindakan Preventif
Tempat pemeliharaan diusahakan selalu kering agar tidak jadi sarang penyakit.Tempat yang lembab dan basah menyebabkan kelinci mudah pilek dan terserang penyakit kulit.
2) Pengontrolan Penyakit
Kelinci yang terserang penyakit umumnya punya gejala lesu, nafsu makan turun,suhu badan naik dan mata sayu. Bila kelinci menunjukkan hal ini segera dikarantinakan dan benda pencemar juga segera disingkirkan untuk mencegah wabahpenyakit.
3) Perawatan Ternak
Penyapihan anak kelinci dilakukan setelah umur 7-8 minggu. Anak sapihan ditempatkan kandang tersendiri dengan isi 2-3 ekor/kandang dan disediakan pakan yang cukup dan berkualitas. Pemisahan berdasar kelamin perlu untuk mencegah dewasa yang terlalu dini. Pengebirian dapat dilakukan saat
menjelang dewasa. Umumnya dilakukan pada kelinci jantan dengan membuang testisnya.
4) Pemberian Pakan
Jenis pakan yang diberikan meliputi hijauan meliputi rumput lapangan, rumput gajah, sayuran meliputi kol, sawi, kangkung, daun kacang, daun turi dan daun kacang panjang, biji-bijian/pakan penguat meliputi jagung, kacang hijau, padi,kacang tanah, sorghum, dedak dan bungkil-bungkilan. Untuk memenuhi pakan iniperlu pakan tambahan berupa konsentrat yang dapat dibeli di toko pakan ternak.

Pakan dan minum diberikan dipagi hari sekitar pukul 10.00. Kelinci diberi pakan dedak yang dicampur sedikit air. Pukul 13.00 diberi rumput sedikit/secukupnya dan pukul 18.00 rumput diberikan dalam jumlah yang lebih banyak. Pemberian air minum perlu disediakan di kandang untuk mencukupi kebutuhan cairan tubuhnya.
5) Pemeliharaan Kandang
Lantai/alas kandang, tempat pakan dan minum, sisa pakan dan kotoran kelinci setiap hari harus dibersihkan untuk menghindari timbulnya penyakit. Sinarmatahari pagi harus masuk ke kandang untuk membunuh bibit penyakit. Dinding kandang dicat dengan kapur/ter. Kandang bekas kelinci sakit
dibersihkan dengan kreolin/lysol.

HAMA DAN PENYAKIT
1) Bisul
Penyebab: terjadinya pengumpulan darah kotor di bawah kulit.
Pengendalian: pembedahan dan pengeluaran darah kotor selanjutnya diberi Jodium.
2) Kudis
Penyebab: Darcoptes scabiei. Gejala: ditandai dengan koreng di tubuh.
Pengendalian: dengan antibiotik salep.
3) Eksim
Penyebab: kotoran yang menempel di kulit. Pengendalian: menggunakan salep/bedakSalicyl.
4) Penyakit telinga
Penyebab: kutu. Pengendalian: meneteskan minyak nabati.
5) Penyakit kulit kepala
Penyebab: jamur. Gejala: timbul semacam sisik pada kepala.
Pengendalian: dengan bubuk belerang.
6) Penyakit mata
Penyebab: bakteri dan debu. Gejala: mata basah dan berair terus.
Pengendalian: dengan salep mata.
7) Mastitis
Penyebab: susu yang keluar sedikit/tak dapat keluar. Gejala: puting
mengeras dan panas bila dipegang. Pengendalian: dengan tidak menyapih anak terlalu mendadak.
8) Pilek
Penyebab: virus. Gejala: hidung berair terus. Pengendalian: penyemprotan antiseptik pada hidung.
9) Radang paru-paru
Penyebab: bakteri Pasteurella multocida. Gejala: napas sesak, mata dan
telinga kebiruan. Pengendalian: diberi minum Sul-Q-nox.
10) Berak darah
Penyebab: protozoa Eimeira. Gejala: nafsu makan hilang, tubuh kurus, perut membesar dan mencret darah. Pengendalian: diberi minum sulfaquinxalin dosis 12ml dalam 1 liter air.
11) Hama pada kelinci umumnya merupakan predator dari kelinci seperti anjing.Pada umumnya pencegahan dan pengendalian hama dan penyakit dilakukan dengan menjaga kebersihan lingkungan kandang, pemberian pakan yang sesuai dan memenuhi gizi dan penyingkiran sesegera mungkin ternak yang sakit.

PANEN


Hasil Utama

Hasil utama kelinci adalah daging dan bulu

Hasil Tambahan

Hasil tambahan berupa kotoran untuk pupuk

Penangkapan

Kemudian yang perlu diperhatikan cara memegang kelinci hendaknya yang benaragar kelinci tidak kesakitan.


PASCAPANEN
Stoving
Kelinci dipuasakan 6-10 jam sebelum potong untuk mengosongkan usus. Pemberian minum tetap .
Pemotongan dapat dengan 3 cara:
1) Pemukulan pendahuluan, kelinci dipukul dengan benda tumpul pada kepala dan saat koma disembelih.
2) Pematahan tulang leher, dipatahkan dengan tarikan pada tulang leher. Caraini kurang baik.
3) Pemotongan biasa, sama seperti memotong ternak lain.

Pengulitan
Dilaksanakan mulai dari kaki belakang ke arah kepala dengan posisi kelincidigantung.

Pengeluaran Jeroan

Kulit perut disayat dari pusar ke ekor kemudian jeroan seperti usus, jantung dan paru-paru dikeluarkan. Yang perlu diperhatikan kandung kemih jangan sampai pecah karena dapat mempengaruhi kualitas karkas.

Pemotongan Karkas

Kelinci dipotong jadi 8 bagian, 2 potong kaki depan, 2 potong kaki belakang, 2potong bagian dada dan 2 potong bagian belakang. Presentase karkas yang baik49-52%.

ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA

1.Analisis Usaha Budidaya
Perkiraan analisis budidaya kelinci didasarkan pada jumlah ternak per 20 ekor
induk:
1) Biaya Produksi
a. Kandang dan perlengkapan Rp. 1.000.000,-
b. Bibit induk 20 ekor @ Rp. 30.000, Rp. 600.000,-
c. Pejantan 3 ekor @ Rp. 20.000,- Rp. 60.000,-
d. Pakan
- Sayur + rumput Rp. 1.000.000,-
- Konsetrat (pakan tambahan) Rp. 2.000.000,-
e. Obat Rp. 1.000.000,-
f. Tenaga kerja 2 x 12 x Rp. 150.000,- Rp. 3.600.000,-
Jumlah biaya produksi Rp. 9.260.000,-
2) Pendapatan
Kelahiran hidup/induk/tahun = 31 ekor
Penjualan:
a. Bibit: 20 x 15 x Rp. 20.000,- Rp. 6.000.000,-
b. Kelinci potong 20 x 15 x Rp. 50.000,- Rp. 15.000.000,-
c. Feses/kotoran Rp. 60.000,-
d. Bulu Rp. 750.000,-
Jumlah pendapatan Rp. 21.810.000,-
3) Keuntungan Rp. 12.550.000,-
4) Parameter kelayakan usaha - B/C ratio = 2,36

Gambaran Peluang Agribisnis

Gerakan peningkatan gizi yang dicanangkan pemerintah terutama yang berasal dari protein hewani sampai saat ini masih belum terpenuhi. Kebutuhan daging kita masih banyak dipenuhi dari impor. Kelinci yang punya keunggulan dalam cepatnya berkembang, mutu daging yang tinggi, pemeliharaan mudah dan rendahnya biaya produksi menjadikan ternak ini sangat potensial untuk dikembangkan. Apalagi didukung dengan permintaan pasar dan harga daging maupun bulu yang cukup tinggi.